18 Oktober 2012

Karya Dinot :)


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Salah satu tugas guru adalah mengajar. Guru dituntut untuk mampu mengembangkan potensi-potensi peserta didik secara optimal. Dalam kegiatan belajar mengajar ini tentu saja tidak dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bisa bertindak dengan cepat. Oleh karenanya, sebagai calon guru perlu mempelajari prinsip-prinsip belajar yang dapat membimbing aktifitas seorang guru dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip belajar menunjuk kepada hal-hal penting yang harus dilakukan guru agar terjadi proses belajar siswa sehingga proses pembelajaran yang dilakukan dapat mencapai hasil yang diharapkan. Dalam melaksanakan pembelajaran, pengetahuan tentang rinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Guru dapat terhindar dari tindakan-tindakan yang kelihatannya baik tetapi nyatanya tidak berhasil meningkatkan proses belajar siswa. Selain itu dengan prinsip-prinsip belajar, guru memiliki dan mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa.
B.   Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan kami menulis makalah ini adalah.
1.  Memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.
2.  Menjelaskan prinsip-prinsip belajar.
3.  Menginformasikan kegunaan dan implikasi dari prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru.




 C.  Rumusan Masalah
1.  Apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip belajar dan apa saja yang temuat dalam prinsip-prinsip belajar ?
2.  Bagaimana implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru ?
3.  Bagaimana implikasi prinsip-prinsip belajar dalam pembelajaran ?


























BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Prinsip-Prinsip Belajar
Prinsip belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik. Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa maupaun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan.
Banyak prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan atau penguatan, serta perbedaan individual. (Dimyati dan Mudjiono, 2002:42).
1.        Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage n Berliner, 1984: 335 ). Perhatian terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhan dan keperluannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (Gage dan Berliner, 1984 : 372).
Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sampai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan.
Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain bisa dari guru, orang tua, teman dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya. Sedangkan motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya telapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapat ijazah. Naik kelas dan mendapat ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.
2.        Keaktifan
Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemampuan dan aspirasi sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. Mon Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri. maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah (John Dewy 1916, dalam Davies, 1937:31).
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misaInya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.
3.        Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengalami secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe, yang paling baik apabila ia terlihat secara langsung dalam pembuatan (direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang membuat tempe (demonstrating), apalagi sekadar mendengar orang bercerita bagaimana cara pembuatan tempe (telling).
Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh Jhon Dewey dengan “learning by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok dengan cara memecahkan masalah. Guru bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing.
Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik saja namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan intemalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
4.        Pengulangan
Menurut Teori Psikologi Daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya.
Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah Teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thorndike. Ia mengemukakan bahwa belajar adalah pembentukkan antara stimulus dan respon, dan pengulangan terhadap pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar.
Teori Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan dari teori Koneksionisme menyatakan perilaku individu dapat dikondisikan, dan belajar merupakan upaya mengkondisikan suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu. 
Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk respons yang benar dan membentuk kebiasaan- kabiasaan. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar tetap diperlukan latihan/pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan (Gage dan Berliner, 1984:259).
5.        Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar barada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu, yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut.
Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang yang membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menerimakan konsep-konsep dan prinsip-prinsip akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip tersebut. Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.
6.    Balikan dan Penguatan
Siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil yang baik akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya.
Siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya anak yang mendapatkan nilai jelek dan takut tidak naik kelas juga bisa mendorong siswa belajar lebih giat lagi. Ini disebut penguatan negatif atau escape conditioning. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa terdorong untuk lebih giat dan bersemangat.
7.      Perbedaan Individual
Perbedaan individual berpengaruh terhadap cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individual perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran.
Sistem pendidikan klasikal yang dilakuan di sekolah umumnya kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebisaaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Pengajaran klasikal artinya seorang guru di dalam kelas menghadapi sejumlah besar siswa (30-40 orang) dalam waktu yang sama menyampaikan bahan pelajaran yang sama pula. Bahkan metodenya pun satu metode yang sama untuk seluruh anak tersebut. (Suryosubroto, 2002:83)
Namun pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual ini dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi, penggunaan metode instruksional akan memnbantu melayani perbedaan siswa dalam belajar, memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa pandai dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang, dalam memberikan tugas, hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa.
2.2  Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar Bagi Siswa
Siswa sebagai “primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran dengan alasan apapun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya prinsip- prinsip belajar. Justru pada siswa akan berhasil dalam pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip belajar terhadap diri mereka.
1.    Perhatian dan Motivasi
Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu memberikan perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya. Pesan-pesan yang menjadi isi pelajaran seringkali dalam bentuk rangsangan suara, warna. bentuk, gerak, dan rangsangan lain yang dapat diindra. Dengan demikian siswa diharapkan selalu melatih indranya untuk memperhatikan rangsangan yang muncul dalam prosses pembelajaran. Peningkatan/pengembangan minat ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi (Gage dan Berliner, 1984:373).
 Contoh kegiatan atau perilaku siswa, baik fisik maupun psikis, seperti mendengarkan ceramah guru, membandingkan konsep sebelumnya dengan konsep yang baru diterima, dan lain-lain yang harus dilakukan secara sadar sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajarnya.
Sedangkan implikasi prinsip perhatian dan motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh siswa bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan dikembangkan secara terus menerus. Untuk dapat membangkitkan dan mengembangkan motivasi belajar mereka secara terus menerus, siswa dapat melakukannya dengan menentukan atau mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai, menanggapi secara positif pujian atau dorongan dari orang lain, menentukan target atau sasaran penyelesaian tugas belajar, dan perilaku sejenis lainnya.
2.    Keaktifan
Sebagai ”primus motor” dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, siswa dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual dan emosional.
Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, membuat karya ilmiah dan sebagainya.
3.        Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Hal apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak ada seorangpun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Davies, 1987:32). Pemyataan ini. secara mutlak menuntut adanya keterlibatan langsung dari “tiap siswa dalam kegiatan belajar pembelajaran.
Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak segan mengerjakan segala tugas belajar yang diberikan kepada mereka. Dengan keterlibatan langsung ini, secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi siswa misalnya adalah siswa ikut dalam pembuatan lapangan bola voli, siswa melakukan reaksi kimia, siswa berdiskusi untuk membuat laporan, siswa membaca puisi di depan kelas, dan perilaku sejenis lainnya. Bentuk perilaku keterlibatan langsung siswa tidak secara mutlak menjamin terwujudnya prinsip keaktifan pada diri siswa. Namun demikian, perilaku keterlibatan siswa secara langsung dalam kegiatan belajar pembelajaran dapat diharapkan mewujudkan keaktifan siswa. 
4.        Pengulangan
Penguasaan secara penuh dari setiap langkah kemungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti (Davies, 1987:32 ). Dari penyataan inilah pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
Implikasi prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang untuk satu macam permasalahan. Misalnya menghafal unsur-unsur kimia setiap valensi, mengerjakan soal-soal latihan, menghafal nama-nama latin tumbuhan, atau menghafal tahun-tahun terjadinya peristiwa sejarah.
5.        Tantangan
Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pernyataan bahwa apabila siswa diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri maka ia lebih termotivasi untuk belajar ia akan belajar dan mengingat secara lebih baik (Davies, 1987:32). Hal ini berarti siswa selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh. memproses, dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran.
Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adalah tuntutan dimiliknya kesadaran pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh, memproses, dan mengolah pesan. Selain itu, siswa juga harus memiliki keingintahuan yang besar terhadap segala permasalahan yang dihadapinya. Bentuk perilakunya diantaranya adalah melakukan eksperimen, melaksanakan tugas terbimbing maupun mandiri, atau mencari tahu pemecahan suatu masalah.
6.        Balikan dan Penguatan
Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang hasil (knowledge of result) yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi dirinya sendiri.
Untuk memperoleh balikan penguatan bentuk-bentuk perilaku siswa yang memungkinkan di antaranya adalah dengan segera mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor/nilai yang dicapai atau menerima teguran dari guru/orang tua karena hasil belajar yang jelek.
7.        Perbedaan Individual
Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut kecepatannya sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi kecepatan belajar (Davies, 1987:32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan siswa lain, akan membantu siswa menentukan cara belajar dan sasaran belajar bagi dirinya sendiri.
Implikasi adanya prinsip perbedaan individual bagi siswa adalah menentukan tempat duduk di kelas dan menyusun jadwal belajar. Ada anak yang belajar lebih efektif dengan membaca. Adapula anak yang belajar lebih efektif dengan mendengarkan, atau dengan melakukan sebuah percobaan.
2.3  Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar Bagi Guru
Guru sebagai orang kedua dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari adanya prinsip-prinsip belajar. Guru sebagai penyelenggara dan pengelola kegiatan pembelajaran terimplikasi oleh adanya prinsip-prinsip belajar yang tampak pada rencana pembelajaran maupun pelaksanaan kegiatannya.
1.        Perhatian dan Motivasi
     Saat guru merencanakan kegiatan pembelajarannya sudah memikirkan perilaku terhadap siswa sehingga dapat menarik perhatian dan menimbulkan motivasi  siswa.
Implikasi prinsip perhatian bagi guru tampak pada perilaku seperti:
a.    Guru menggunakan metode secara bervariasi.
b.    Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton.
c.    Guru menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan materi yang diajarkan.
              Implikasi prinsip motivasi bagi guru tampak pada perilaku seperti:
a.    Memilih bahan ajar sesuai dengan minat siswa.
b.    Menggunakan metode dan teknik mengajar yang disukai siswa.
c.    Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan memberitahukan hasilnya kepada siswa.
2.      Keaktifan                                                                                            
Peran guru mengorganisasikan kesempatan belajar bagi masing-masing siswa berarti mengubah peran guru dari bersifat didaktis menjadi lebih bersifat mengindividualis, yaitu menjamin bahwa setiap siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan di dalam kondisi yang ada (Sten, 1988:224). Hal ini berarti pula bahwa kesempatan yang diberikan oleh guru akan menuntut siswa selalu aktif mencari, memperoleh dan mengolah perolehan belajarnya.
Untuk dapat menimbulkan keaktifan belajar pada diri siswa, maka guru dapat melaksanakan perilaku-perilaku seperti:
a.    Menggunakan multi-metode dan multimedia.
b.    Memberikan tugas secara individual dan kelompok.
c.    Memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kecil (beranggota tidak lebih dari 3 orang).
d.   Mengadakan tanya jawab dan diskusi.
3.             Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Untuk dapat melibatkan siswa secara fisik, mental-emosional dan intelektual dalam kegiatan pembelajaran, maka guru hendaknya merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik siswa dan karakteristik isi pelajaran.
Perilaku sebagai implikasi prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman di antaranya adalah:
a.    Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran individual dan kelompok.
b.    Menggunakan media yang langsung digunakan oleh siswa.
c.    Melibatkan siswa mencari informasi/pesan dari sumber informasi di luar kelas atau luar sekolah.
Implikasi lain dari adanya prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman bagi guru adalah kemampuan guru untuk bertindak sebagai manajer/pengelola kegiatan pembelajaran yang mampu mengarahkan, membimbing dan mendorong siswa ke arah tujuan pengajaran yang ditetapkan.
4.      Pengulangan
Implikasi prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu memilihkan antara kegiatan pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan dengan yang tidak membutuhkan pengulangan. Pengulangan terutama dibutuhkan oleh pesan-pesan pembelajaran yang harus dihafalkan secara tetap tanpa ada kesalahan sedikitpun. Selain itu, pengulangan juga diperlukan terhadap pesan-pesan pembelajaran yang membutuhkan latihan.
Perilaku yang merupakan implikasi prinsip pengulangan antara lain:
a.    Merancang pelaksanaan pengulangan.
b.    Mengembangkan/merumuskan soal-soal latihan.
c.    Membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi.
5.      Tantangan
Apabila guru menginginkan siswa selalu berusaha mencapai tujuan, maka guru harus memberikan tantangan pada siswa dalam kegiatan  diwujudkan oleh guru melalui bentuk kegiatan, bahan, dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran.
Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip tantangan diantaranya:
a.    Menugaskan kepada siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang selesai disajikan.
b.    Membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi sendiri.
c.    Merancang dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukannya secara individual atau dalam kelompok kecil (3 – 4 orang).
d.   Guru merancang dan mengelola kegiatan diskusi untuk menyelenggarakan masalah-masalah yang disajikan dalam topik diskusi.
6.      Balikan dan Penguatan
Balikan dapat diberikan secara lisan maupun tertulis, baik secara individual ataupun kelompok klasikal. Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran harus dapat menentukan bentuk, cara, serta kapan balikan dan penguatan diberikan. Agar balikan dan penguatan bermakna bagi siswa, guru hendaknya memperhatikan karakteristik siswa.
Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi guru berwujud perilaku-perilaku yang diantaranya adalah :
a.    Memberitahukan jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah dijawab siswa secara benar maupun salah.
b.    Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi, disertai skor dan catatan-catatan bagi siswa.
c.    Memberikan hadiah bagi siswa yang berhasil menyelesaikan tugas.
d.   Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru disertai skor dan catatan-catatan bagi siswa.
e.     Mengumumkan atau mengkonfirmasikan peringkat yang diraih setiap siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tes.
7.      Perbedaan Individual
Setiap guru tentunya harus menyadari bahwa menghadapi 30 siswa dalam satu kelas, berarti menghadapi 30 macam keunikan atau karakteristik. Selain karakteristik/keunikan kelas, guru harus menghadapi 30 siswa yang berbeda karakteristiknya satu dengan lainnya. Konsekuensi logis adanya hal ini, guru harus mampu melayani setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang per orang.






Implikasi prinsip perbedaan individual bagi guru berwujud periaku seperti:
a.    Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perilaku pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan.
b.    Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai dengan karakteristiknya.
c.    Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran.
2.3     Implikasi Prinsip-prinsip Belajar dalam Pembelajaran
1.       Prinsip perhatian dalam motivasi
Perhatian dan motivasi merupakan dua aktivitas yang memiliki keterkaitan yang sangat erat. Untuk menumbuhkan perhatian diperlukan adanya motivasi. Sejumlah hasil penelitian bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika anak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar.
Hamalik (2001), mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan). Perubahan energi di dalam diri seseorang tersebut kemudian membentuk suatu aktivitas nyata dalam berbagai bentuk kegiatan.
Motivasi terkait erat dengan kebutuhan. Semakin besar kebutuhan seseorang akan sesuatu yang ingin ia capai, maka akan semakin kuat motivasi untuk mencapainya. Kebutuhan yang kuat terhadap sesuatu akan mendorong seseorang untuk mencapainya dengan sekuat tenaga. Hanya dengan motivasilah anak didik dapat tergerak hatinya untuk belajar bersama teman-temannya yang lain (Djamarah, 2006:148).
Penerapan prinsip-prinsip motivasi dalam proses pembelajaran akan dapat berlangsung dengan baik, bilamana guru memahami beberapa aspek yang berkenaan dengan dorongan psikologis sebagai individu dalam diri siswa sebagai berikut :


a.    Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian.
b.    Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar.
c.    Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi.
d.   Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terdapat motivasi dan perilaku.
Agar motivasi belajar siswa dapat tumbuh dengan baik maka guru harus berusaha :
a.    Merancang atau menyiapkan bahan ajar yang menarik.
b.    Mengkondisikan proses belajar aktif.
c.    Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang menyenangkan.
d.   Meyakinkan siswa bahwa mereka mampu mencapai suatu prestasi.
e.    Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin pula memberitahukan hasilnya kepada siswa.
2.       Prinsip Transfer dan Retensi
Belajar dianggap bermanfaat bila seseorang dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar dalam situasi baru. Apapun yang dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan dalam situasi yang lain. Proses tersebut dikenal sebagai proses transfer. Kemampuan sesesorang untuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi.
a.    Retensi seseorang dipengaruhi oleh kondisi psikis dan fisik dimana proses belajar itu terjadi.
b.    Latihan yang terbagi-bagi memungkinkan retensi yang lebih baik.
c.    Proses saling mempengaruhi dalam belajar akan terjadi bila bahan baru yang sama dipelajari mengikuti bahan yang lalu.
3.             Prinsip Keaktipan
     Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosional dan fisik jika dibutuhkan. Pandangan mendasar yang perlu menjadi kerangka pikir setiap guru adalah bahwa pada prinsipnya anak-anak adalah makhluk yang aktif. Individu merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu. Daya keaktifan yang dimiliki anak secara kodrati itu akan dapat berkembang ke arah yang positif bilamana lingkungannya memberikan ruang yang baik untuk tumbuh keaktifan itu.
   Implikasi prinsip keaktifan atau aktivitas bagi guru di dalam proses pembelajaran adalah:
a.    Memberi kesempatan, peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk berkreativitas dalam prose pembelajarannya.
b.    Memberikan kesempatan melakukan pengamatan, penyelidikan atau inkuiri dan eksperimen.
c.    Memberikan pujian verbal dan non verbal terhadap siswa yang memberikan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
d.   Menggunakan multi metode dan multi media di dalam pembelajaran.
4.             Prinsip Keterlibatan Langsung
Sejumlah hasil penelitian membuktikan lebih dari 60% sesuatu yang diperoleh dari kegiatan belajar didapatkan dari keterlibatan langsung. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajarnya yang dituangkan di dalam kerucut pengalaman belajar mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui penglaman langsung. Keterlibatan langsung siswa memberi banyak sekali manfaat yang langsung dirasakan pada saat terjadinya proses pembelajaran tersebut.
Implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi guru adalah:
a.    Mengaktifan peran individual atau kelompok kecil di dalam penyelesaian tugas.
b.    Menggunakan media secara langsung dan melibatkan siswa untuk melakukan berbagai percobaan atau eksperimen.
c.    Memberi keleluasaan kepada siswa untuk melakukan berbagai percobaan atau eksperimen.
d.   Memberikan tugas-tugas praktek.



5.       Prinsip Pengulangan
Teori belajar klasik yang memberikan dukungan paling kuat terhadap prinsip belajar pengulangan ini adalah teori psikologi daya. Berdasarkan teori ini, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang meliputi daya berpikir, mengingat, mengamati, manghafal, menanggapi dan sebagainya. Melalui latihan-latihan maka daya-daya tersebut semakin berkembang. Sebaiknya semakin kurang pemberian latihan, maka daya-daya tersebut semakin lambat perkembangannya.
Implikasi prinsip-prinsip pengulangan bagi guru adalah:
a.    Memilah pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan.
b.    Merancang kegiatan pengulangan.
c.    Mengembangkan soal-soal latihan.
d.   Mengimplementasikan kegiatan-kegiatan pengulangan yang bervariasi.
Sedangkan pada siswa sangat dituntut untuk memiliki kesadaran yang mendalam agar bersedia melakukan pengulangan latihan-latihan baik yang ditugaskan oleh guru maupun atas inisiatif dan dorongan diri sendiri.
6.             Prinsip Tantangan
Deporter (2000:23) mengemukakan bahwa studi-studi menunjukkan bahwa siswa lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang serta ramah, dan mereka memiliki peran di dalam pengambilan keputusan. Bilamana anak merasa tertantang dalam suatu pelajaran, maka ia dapat mengabaikan aktivitas lain yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya.
Beberapa bentuk kegiatan berikut dapat dijadikan sebagai acuan bagi guru untuk menciptakan tantangan dalam kegiatan belajar, yaitu :
a.    Merancang dan mengelola kegiatan eksperimen.
b.    Memberikan tugas-tugas pemecahan masalah kepada siswa.
c.    Mendorong siswa untuk membuat kesimpulan pada setiap sesi pembelajaran.
d.   Mengembangkan bahan-bahan pembelajaran yang menarik.
e.    Merancang dan mengelola kegiatan diskusi.
7.       Prinsip Balikan dan Penguatan
Prinsip balikan dan penguatan pada dasarnya merupakan implementasi dari teori belajar yang dikemukakan oleh Skiner melalui Teori Operant Conditioning dan salah satu hukum belajar dari Thorndike yaitu “law of effect”. Menurut hukum belajar ini, siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil belajar, apalagi hasil yang baik merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh positif bagi upaya-upaya belajar berikutnya. Namun dorongan belajar, menurut Skinner tidak hanya muncul karena penguatan yang menyenangkan, akan tetapi juga terdorong oleh penguatan yang tidak menyenangkan, dengan kata lain penguatan positif dan negatif dapat memperkuat belajar.
Sumantri dan Permana (1999:274) mengemukakan secara khusus beberapa tujuan dari pemberian penguatan, yaitu:
a.    Membangkitkan motivasi belajar peserta didik.
b.    Merangsang peserta didik berpikir lebih baik.
c.    Mengendalikan dan mengubah sikap negatif peserta didik dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar.
Terdapat beberapa jenis penguatan yang dapat dilakukan guru:
a.    Penguatan verbal, yaitu penguatan yang diberikan guru berupa kata-kata/kalimat yang diucapkan, seperti: “bagus”, “baik”, “smart”, “tepat” dan sebagainya.
b.    Penguatan gestural, yaitu penguatan berupa gerak tubuh atau mimik muka yang memberi arti/kesan baik kepada peserta didik. Penguatan gestural dapat berupa; tepuk tangan, acungan jempol, anggukan, tersenyum, dan sebagainya.
c.    Penguatan dengan cara mendekati, yaitu perhatian guru terhadap perilaku peserta didik dengan cara mendekatinya. Penguatan dengan cara mendekati ini dapat dilakukan ketika peserta didik menjawab pertanyaan, bertanya, berdiskusi atau sedang melakukan aktivitas-aktivitas lainnya.
Implikasi prinsip-prinsip balikan dan penguatan bagi guru antara lain : (1) memberikan balikan dan penguatan secara tepat, baik tenik, waktu maupun bentuknya, (2) memberikan kepada siswa jawaban yang benar, (3) mengoreksi dan membahas pekerjaan siswa, (4) memberikan catatan pada hasil pekerjaan siswa baik berupa angka maupun komentar-komentar tertentu, (5) memberikan lembar jawaban atau kerja siswa, (6) mengumumkan atau menginformasikan peringkat secara terbuka, (7) memberikan penghargaan.
8.    Prinsip Perbedaan Individual
Hasil sejumlah riset menunjukkan bahwa keberagaman faktor, seperti sikap siswa, kemampuan dan gaya belajar, pengetahuan serta memberikan dan konteks pembelajaran merupakan komponen yang memberikan dampak sangat penting terhadap apa yang sesungguhnya harus siswa-siswa pelajari (Killen, 1998:5).
Pengenalan terhadap siswa dalam interaksi belajar mengajar merupakan faktor yang sangat mendasar dan penting untuk dilakukan oleh setiap guru agar proses pembelajaran yang dilakukan dapat menyentuh kepentingan siswa, minat siswa, kemampuan serta berbagai karakteristik lain yang terdapat pada siswa dan pada akhitrnya mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Implikasi prinsip-prinsip perbedaan individual ini adalah mengharuskan agar setiap guru memberikan perhatian secara sungguh-sungguh terhadap semua keunikan yang melekat pada diri siswa.
Implikasi atau penerapan prinsip-prinsip perbedaan individual dalam proses pembelajaran terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan guru sebagai berikut:
                  a.     Para siswa harus dapat dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan untuk selanjutnya mendapat perlakuan dan layanan kegiatan belajar yang mereka butuhklan.
                  b.     Para siswa harus terus didorong memahami potensi dirinya dan untuk selanjutnya mampu merencanakan dan melaksanakan kegiatan.
                  c.     Para siswa harus dapat dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya serta pemenuhan kebutuhan belajar maupun bimbingan yang berbeda dengan siswa-siswa yang lain.
                 d.     Para siswa yang telah memahami kekuatan dirinya akan lebih cenderung memiliki dorongan dan minat untuk belajar secara lebih sungguh-sungguh.
Disamping prinsip-prinsip belajar yang berlaku umum, beberapa ahli juga memberikan penekanan tentang perlunya prinsip-prinsip belajar pada masing-masi ng ranah pembelajaran, yang mencakup :
1.       Prinsip Belajar Kognitif
Belajar kognitif melibatkan proses pengenalan dan penemuan. Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, bernalar, menilai dan berimajinasi.
Beberapa hal berikut yang sangat penting diperhatikan dalam proses pembelajaran kognitif :
                  a.     Hasil belajar kognitif akan bervariasi sesuai dengan taraf dan jenis perbedaan individual yang ada.
                  b.     Kemampuan membaca, kecakapan dan pengalaman berpengaruh langsung terhadap proses belajar kognitif.
                  c.     Pengalaman belajar harus diorganisasikan ke dalam satuan-satuan unit-unit yang sesuai.
2.       Prinsip Belajar Afektif
     Proses belajar afektif seseorang menemukan bagaimana ia menghubungkan dirinya dengan pengalaman baru. Belajar afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap.
a.    Pembelajaran afektif dapat dilaksanakan dengan  baik untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan, guru harus memperhatikan beberapa hal berikut : Nilai-nilai yang ada pada diri individu dipengaruhi oleh standar perilaku kelompok.
b.    Bagaimana para siswa menyesuaikan diri dan memberi reaksi terhadap situasi akan memberi dampak dan pengaruh terhadap proses belajar afektif.
c.    Dalam banyak kesempatan nilai-nilai penting yang diperoleh pada masa kanak-kanak akan tetap melekat sepanjang hayat.
d.   Model interaksi guru dan siswa yang positif dalam proses pembelajaran di kelas dapat memberikan kontribusi bagi tumbuhnya sikap positif di kalangan siswa.
e.    Para siswa dapat dibantu agar lebih matang dengan cara memberikan dorongan bagi mereka untuk lebih mengenal dan memahami sikap, peranan serta emosi.
3.       Prinsip Belajar Psikomotorik                                                          
            Proses belajar psikomotor individu menentukan bagaimana ia mampu mengendalikan aktivitas ragawinya. Belajar psikomotor mengandung aspek mental dan fisik.
Terdapat beberapa hal penting yang perlu diketahui guru berkenaan dengan pembelajaran psikomotorik :
a.    Di dalam tugas suatu kelompok akan menunjukkan variasi kemampuan  dasar psikomotorik.
b.    Melalui aktivitas bermain dan aktivitas informal lainnya para siswa akan memperoleh kemampuan mengontrol gerakannya secara lebih baik.
c.    Faktor-faktor lingkungan memberikan pengaruh terhadap bentuk dan cakupan penampilan psikomotor individu.
d.   Latihan yang cukup yang diberikan dalam rentang waktu tertentu dapat memperkuat proses belajar psikomotorik.
e.    Tugas-tugas psikomotorik yang terlalu sukar bagi siswa dapat menimbulkan keputusasaan dan kelelahan yang lebih cepat.




BAB III
PENUTUP
3.1         Kesimpulan
Prinsip belajar dapat diartikan sebagai pandangan-pandangan mendasar dan dianggap penting yang dijadikan sebagai pegangan didalam melaksanakan kegiatan belajar atau prinsip belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik. Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa maupaun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan.
Prinsip-prinsip belajar juga memberikan arah tentang apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh guru agar para siswa dapat berperan aktif di dalam proses pembelajaran.
Beberapa prinsip-prinsip belajar yang dapat dijadikan pegangan guru di dalam pelaksanaan proses pembelajaran, yaitu perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, dan perbedaan individual. Disamping prinsip belajar belajar yang berlaku umum tersebut, beberapa ahli juga mengemukakan prinsip-prinsip belajar di masing-masing ranah pembelajaran, yang dijabarkan dalam tiga prinsip, yaitu : prinisp-prinsip belajar kognitif, afektif dan psikomotorik.  
3.2     Saran
Sebagai calon guru, kita harus mempelajari dan mengimplikasikan prinsip-prinsip belajar yang dapat membimbing aktifitas seorang guru dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang efektif. Dengan  prinsip-prinsip belajar, guru memiliki dan mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa.



DAFTAR PUSTAKA
Dr. Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Gudang Pendidikan. 2008. Prinsip-Prinsip Belajar dan Aplikasinya dalam Pembelajaran. http://gudangpendidikan.blogspot.com/. Tanggal Akses: 27 September 2012
Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Ichsan, Taofik. 2007. Makna dan Prinsip-Prinsip Belajar. http://perawat-gaul.blogspot.com/. Tanggal Akses: 27 September 2009.
Nahampun, Japeris. 2009. Prinsip-Prinsip Belajar dan Pembelajaran. http://jeperis.wordpress.com/. Tanggal Akses : 29 September 2012




















KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya berupa kesehatan dan kesempatan untuk dapat menyusun makalah ini.
Makalah ini merupakan pemaparan tentang Prinsip-Prinsip Belajar. Prinsip-prinsip belajar dapat diartikan sebagai pandangan-pandangan mendasar dan dianggap penting yang dijadikan sebagai pegangan didalam melaksanakan kegiatan belajar atau prinsip belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik. Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa maupaun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan bila dilihat dari susunan materi, sistematika dan tata bahasanya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca agar dapat memperbaiki apabila ada kesalahan.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.


                                                                        Lubuklinggau,    September 2012



                                                                                             Penulis




DAFTAR ISI





























PRINISIP-PRINSIP BELAJAR
 




MATA KULIAH                 : BELAJAR dan PEMBELAJARAN
DOSEN PENGAMPU        : EKASARI, M.Pd




 










DISUSUN OLEH:
1.      DINI                                                (4011181)
2.      SITI AYU SUNDARI                   (40111)     
3.      MASDIANA                                   (40111)



SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
STKIP - PGRI LUBUKLINGGAU
TAHUN AKADEMIK 2011/2012

1 komentar: